Powered by Blogger.

Polisi


"Apa yang dipikirkan pertama kali saat mendengar kata POLISI?"

Saya yakin saat ini jawaban yang terbanyak adalah Pungli, kasar, dan tidak bersahabat...
Mengapa bisa demikian?...
Mengapa petugas yang profesi utamanya adalah sebagai seorang pelindung?...
Sebagai pelayan?...
Bahkan sebagai orang yang mengayomi masyarakat mendapatkan predikat seperti itu???

Ironis bukan???

Kali ini saya mencoba mengajak kalian semua untuk memahami terjadinya fenomena ini.
Namun sebelum masuk ke materi, mohon hilangkan dulu prasangka buruk kalian terhadap saya. (Karena guru saya dulu bilang, kalau sudah emosi terhadap salah satu guru, maka pelajaran semudah apapun tidak akan bisa diserap.. :-) )

Ok, kita mulai..

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang baru berkembang setelah dijajahan ratusan tahun oleh bangsa Belanda. Bangsa kita umurnya sudah 66 tahun, bisa dikatakan lumayan tua untuk ukuran manusia, namun masih remaja apabila menggunakan standar umur negara-negara di dunia. Kenapa masih remaja? Kok belum "dewasa"?
Hal ini disebabkan hasil produk orde lama telah membentuk masyarakat yang tidak mau memikirkan nasib negaranya, semuanya sudah disetir/diatur oleh pemimpin negara kita dulu. Kalau diibaratkan, masyarakat kita dulu sama seperti "anak-anak", disuruh ke sana-mau.... disuruh ke sini-mau... Nolak dikit, diomelin!...

Nah.. Sejak era reformasi, semua sekat-sekat perlahan dibuka! ibaratnya orde lama sampai orde baru adalah "Anak SD"

dan masa reformasi sekarang ini adalah "Anak SMA"
Coba ingat sifat anak SMA seperti apa?
- Tidak berpikir panjang
- Diajak kerja kelompok.. =Tidur2an/becanda
- Diajak kerja bakti.. Membersihkan lingkungan sekolah.. =Ngilang
- Diajak latihan baris-berbaris... =Maless banget...
- Disuruh seragam pakai sepatu hitam... =Protes! (Bila perlu pindah sekolah)
- Diajak main? =YES!!!
- Diajak minum? =OK!!!
- Diajak dugem? =MANTAP!!!


Nah... Apa bedanya dengan negara kita saat ini?
- Tidak berpikir panjang = Baru terima BBM atau SMS teror, langsung disebarkan
- Diajak kerja kelompok = Diajak ikut Pemilu (jangankan mempelajari siapa yang diplih, milih aja males...)
- Diajak kerja bakti = Masalah sampah? Jangankan memisahkan sampah organik & non organik.. Buang bungkus permen atau puntung rokok saja orang tua sudah tidak pernah memberi contoh anak-anaknya.
- Diajak latihan bari-berbaris = Sekolah sekarang sudah banyak yang tidak upacara di hari Senin..
- Disuruh pakai seragam = Masyarakat diminta untuk memiliki SIM terlebih dahulu sebelum membawa kendaraan, mayoritas menyepelekan, kalau ditilang... Protes!
- Diajak unjuk rasa iming2 duit atau kaos? =YES!!!
- Diajak mendukung sesuatu yang salah di Facebook? =OK!!
- Diajak menyebarkan kejelekan-kejelekan pemerintah/instansi lewat belakang/internet? =MANTAP!!!

Sekarang saya ajak untuk kalian menengok Polisi.. Di Inggris ada teori tentang kepolisan secara global mengatakan bahwa, "Polisi adalah bayang-bayang masyarakatnya." Kalau masyarakatnya "jongkok", yah polisinya juga ikut jongkok; kalau masyarakatnya "berdiri" yah polisinya juga ikut berdiri.

Masyarakatnya masih SMA, polisinya juga sekelas SMA.
Di SMA dulu, anak teladan itu sangat minim... yang banyak adalah anak badung, dan anak netral.

Di Polisi juga begitu saat ini.. Banyak Polisi yang TELADAN... namun... masih jauh lebih banyaaaaaaaakkk... yang BELUM TELADAN. Betul kan?

Trus? Bagaimana caranya supaya Polisi menjadi teladan bagi masyarakatnya?

Langkah untuk membangun Polri menjadi dicintai dan disayangi oleh masyarakatnya adalah:
1. Dari internal, mengeraskan komitmen kebersihan dalam sistem rekruitmen Polri, serta doktrin dari pimpinan mengarahkan anak buahnya menjadi polisi yang diinginkan oleh masyarakat.
2. Dari eksternal, masyarakat harus mengenal hukum. Belajar mengenai, "apa yang boleh dilakukan, dan apa yang tidak boleh dilakukan". Misalnya, kalau semua pelanggar di bumi Ibu Pertiwi ini minta ditilang, bukan minta damai, saya yakin tidak akan ada polisi nakal yang berani cari-cari kesempatan lagi.

BIASAKANLAH YANG BENAR...
JANGAN MEMBENARKAN KEBIASAAN...


Apa sih kebiasaan yang benar itu bagi pak polisi?

- Bawa motor harus punya dan bawa SIM
- Mengendarai motor harus menggunakan Helm
- Mengendarai mobil harus menggunakan sabuk keselamatan
- Unjuk rasa tidak boleh hari libur
- Unjuk rasa tidak boleh di objek vital/pelayana publik
- Unjuk rasa tidak boleh bawa anak-anak
- Unjuk rasa tidak boleh anarkis apalagi membakar-bakar
dsb..
dsb..
dsb..

 Kalau saya sudah patuhi peraturan, tapi lingkungan mentertawakan saya bagaimana?

Kuatkanlah mental kalian.. Kita mau jadi orang yang ikut2an, atau menjadi sosok teladan? Sosok teladan di lingkungan yang negatif memang awalnya memang sering dicemooh. Tapi jangan takut! kalian tidak sendiri... Banyak dari pembaca blog ini setelah membaca-baca blog, ikut tergugah untuk belajar mengikuti aturan dan memberi teladan di lingkungannya.

Kalau saya sudah patuhi peraturan, tapi ketemu oknum polisi yang nakal bagaimana?

Pastikan nakalnya bukan dipicu oleh kalian sendiri.. Kalau sudah yakin, tapi tetep ketemu oknum polisi nakal, pelajarilah cara/prosedur melaporkannya ke Provost POLRI.

Di koran saya lihat banyak yang negatif tentang Polisi?

Pandai-pandailah kalian semua dalam memilah berita dan MEDIA.

Contoh 1:
Fakta: Angka pengungkapan kasus narkoba bulan x lebih tinggi dari bulan y
Tanggapan positif: Polisinya berarti meningkatkan pasukannya di lapangan sehingga banyak tangkapan.
Tanggapan negatif: Kinerja Polri menurun, kasus narkoba meningkat.

Contoh 2:
Fakta: TSK pencuri semangka disidangkan
Tanggapan positif: Polisi belajar tegas, tidak peduli umur yang sudah tua atau alasan apapun, yang namanya "mencuri" tetap saja "mencuri".
Tanggapan negatif: Polisi memeriksa seorang nenek yang hanya mencuri buah semangka.

Contoh 3:
Fakta: Foto unjuk rasa yang memperlihatkan polisi menendang/melempar sesuatu ke arah massa unjuk rasa.
Tanggapan positif: Pasti kelewatan pengujuk rasa itu, sampai bisa memancing emosi petugas seperti itu.
Tanggapan negatif: Kekerasan polisi terhadap pengunjuk rasa tidak pernah berakhir.

Contoh 4:
Fakta: Polri memecat sejumlah oknum dengan tidak yang terbukti menyalahgunakan narkotika
Tanggapan positif: Polisi hebat! Berani memecat anggota nya dan dipblikasikan.. Instansi lain belum ada yang berani seperti ini.
Tanggapan negatif: Mental Polri merosot?! Akan dikemanakan mental Polisi Indonesia?

Nah.. Dari keempat contoh di atas, tanggapan manakah yang pasti laku untuk dijadikan headline di MEDIA? Pasti yang NEGATIF.. Kenapa? Karena.............. Sudah resiko jadi polisi, kalau bagus - sedikit yang komentar, kalau jelek - dicaci maki habis2an.

Mari bersama kita belajar netral menghadapi suatu permasalahan, agar kepala selalu dingin. (Prosesor Intel Pentium atau AMD akan melambat kinerjanya apabila suhu di lingkungannya meningkat, sama halnya dengan kepala manusia, kalau suhu emosi berhasil ditingkatkan oleh media massa, maka pikiran jernih masyarakat akan tenggelam)

Pekerjaan/profesi kami mungkin selintas kalian pandang sepele...


Kantor dilempari batu oleh pelanggar lantas yang bertindak seperti anak kecil ngambek

Namun ketahuilah.. Keluarga kami di rumah setiap saat selalu was-was akan hal berikut:

 

 Sejenak berpikir.. tugas kami hanyalah MELERAI dan MENCEGAH.
dan kami juga manusia normal yang apabila dipukul juga merasakan sakit dan marah.. namun mereka terus menerus memojokkan kami..

Apakah bisa Polisi di Indonesia baik semua?

Apabila kalian meyakini hal itu...
Maka hal itu pasti terwujud..

Setelah kita bersama mengetahui bahwa Polri saat ini sedang berjuang, bersama dengan masyarakatnya menjadi sosok "dewasa" (Negara Maju).. Kami mohon dukung Polisi Indonesia, menjadi lebih baik..

Sebagai PELAYAN anda semua...

Sebagai PELINDUNG anda sekeluarga...

Sebagai PENGAYOM masyarakat Indonesia...


 SO... DO SOMETHING, You're Agent Of Change, Mulai dari diri sendiri, Tunjukkan perubahan positif dan hal itu akan berlanjut kepada anak kalian.. dan akan terus berlanjut kepada cucu kalian.. dan seterusnya..


KETAHUILAH NEGARA INI SEKARANG DIHUNI OLEH GENERASI "SAKIT" DAN "OBAT" UNTUK MASA DEPAN NEGARA INI ADALAH MORAL DARI KALIAN "YANG SADAR" BAHWA MEMANG NEGARA INI HARUS "DISUPLAI" DENGAN GENERASI "ANTI PENYAKIT"

DO SOMETHING, SEBARKAN PESAN INI

This article modified by me from original source below

Seorang Wanita

Entah mengapa bagi kebanyakan kaum pria, kemolekan dan kecantikan seorang wanita amatlah penting dan dijadikan sebuah standar utama besarnya kualitas surga dunia yang akan didapatkannya nanti. Bagi sebagian kecil wanita, semakin cantik dirinya maka semakin jelas baginya untuk sadar diri bahwa kecantikannya adalah anugerah terbesar untuk dipamerkan, mereka bangga memiliki tubuh yang telah mereka poles sempurna, memiliki mata yang indah dengan bulu mata selebar kipas hadiah kawinan, bahkan tak jarang dari mereka sampai rela menggunakan kosmetik khusus untuk merubah rona wajah aslinya menjadi warna merah mengkilat seperti warna traffic light perempatan jalan pertanda lampu untuk berhenti, mereka ingin tampil beda dan lebih unggul dari kaum sejenisnya dengan membuktikan lifestyle cara berpakaian yang pada dasarnya sama saja, hingga saking ingin tampil beda dan tak mau disamakan mereka rela berpenampilan eksotis seperti seorang bocah setengah telanjang girang hendak terjun kesungai untuk berenang.
Sarkasme bahasa diatas terlontar tidaklah sekedar tanpa alasan karena disisi lain cantik dalam berpenampilan sangatlah penting namun seharusnya masih berpegang pada prinsip latar belakang sosial budaya dan kebiasaan lama di negeri ini salah satunya yaitu moral dan kehormatan yang dulu pernah dijadikan sebagai harga diri nenek moyang.. Oke oke, mungkin terlalu klasik dan munafik sekali jika bicara mengenai hal tersebut.. adat, kehormatan, budaya bla bla bla dan lain sebagainya terdengar seperti ucapan tua bangka jika dijejalkan dikuping generasi sekarang.
Saya sempat meringis ketika melihat seorang pria muda menyapa seorang wanita dengan dandanan yang extra show off dan pakaiannya yang wow, lebih tepatnya sang pria menyapa dengan panggilan centil menggoda lantas sang wanita memperlihatkan raut muka seperti telah dilecehkan disertai pandangan tajam kearah sang pria. Masalahnya disini adalah sang pria yang notabenenya adalah “pejantan” yang memang sudah dirancang memiliki implus lebih menonjol dan tidak bisa disamarkan mencoba untuk menarik perhatian sang wanita yaitu “betina” yang notabenenya lebih bersifat menarik perhatian lawan jenisnya. Sang wanita merasa tidak dihormati dan merasa tidak diperlakukan normal seperti wanita pada umumnya, sang wanita menganggap perbuatan sang pria amatlah pengecut, tidak sopan, lancang, kampungan atau tidak gentle menurut dia.
Nah, sekarang pertanyaan mendasar adalah..
“bagaimana bisa sang wanita ingin dihormati oleh sang pria sedangkan dia sendiri sebagai seorang wanita lebih menunjukkan karakter “betina” yang terlalu wow jika dibandingkan dengan wanita lainnya yang lebih sopan???”
Berikutnya saya sangat tertawa ketika melihat sekilas info di media televisi sampah yang menayangkan demonstrasi puluhan wanita yang entah dari mana asalnya berdemo disekitar bundaran Hotel Indonesia karena mengecam aksi pemerkosaan wanita (secara sepihak bukan suka sama suka tentunya:D) didalam angkutan penumpang DKI Jakarta dan sekitarnya dengan disertai orasi bahwa kaum pria tidak seharusnya menganggap penampilan MODIS para wanita sebagai "objek wisata" dan tidak sepatutunya melarang bagaimana mereka berpenampilan karena itu merupakan hak perogratif mereka (syuper sekali :D).
 Demonstrasi yang mereka lakukan dimata saya adalah SALAH BESAR karena tidak melihat bahwa pada saat itu mereka sedang berdiri di bumi Indonesia dan bukan dibumi United States, Bumi Indonesia yang masyarakatnya jauh sekali belum siap dan “terdidik” untuk melihat hal-hal fulgar sedari mereka kecil, Bumi Indonesia yang memiliki mayoritas masyarakat dengan pola pikir yang berakar kuat bahwa sedari kecil lebih diajarkan untuk beribadah, mengaji atau membaca alkitab oleh orang tuanya dengan lingkungan yang alim, sederhana dan saling menghormati dan jauh sekali jika dibandingkan dengan kebanyakan negara barat yang memang sedari kecil masyarakatnya sudah terbiasa melihat hegemoni lingkungan dan lifestyle yang fulgar sehingga mental mereka sudah sangat siap dan “terdidik” ketika usia mereka menginjak dewasa.
Saya sendiri kurang setuju apabila “implus” dari para pria lebih disalahkan dan dipojokkan karena pada dasarnya pria memang dari sononya sudah diciptakan dengan kelebihan beban berupa hawa nafsu dan pikiran yang hanya terfokus pada satu titik bila melihat sesuatu, apapun itu bentuknya. Para wanita seharusnya tahu akan hal sepele tersebut dan semampunya mengurangi pancingan mereka agar para pria tidak tegang karena implusnya naik keujung kepala. Tapi demi lifestyle dan trendy mereka dengan seenaknya melupakan kehormatannya sendiri didepan banyak pasang mata.
Setidaknya jika ingin dihormati oleh orang lain maka seharusnya terlebih dahulu menghormati dirinya sendiri.
Lebih jauh saya menilai bahwa generasi sekarang adalah generasi yang meminta bahkan cenderung memaksa untuk membudayakan western lifestyle sebagai acuan standar hidup karena mereka memandang bahwa dunia modern adalah western lifestyle. Adanya sebuah sistem globalisasi dari media juga membuat cepatnya wersternisasi budaya asli pribumi yang malah sangat disayangkan oleh budayawan asing, mereka menyatakan turut berduka cita jika eksotisme budaya asli pribumi Indonesia tidak bisa survive dari ancaman westernisasi budaya.
Dan sedikit saran untuk para wanita yang diambil dari dalam komik berjudul Hidup Itu Indah karangan Komikus kawakan mas Aji Prasetyo :
“jangan sering-sering pamer lekuk tubuh didepan lelaki, karena jika sangat keseringan dilakukan implus mereka akan memudar. Jika itu terjadi, wanita terpaksa menambah “kadar seksinya” (demikian seterusnya) sampai suatu saat untuk menarik perhatian para pria, wanita berlomba untuk telanjang”

apa itu skeptis?

Banyak orang berkata bahwa seorang skeptik adalah orang yang terlalu banyak bertanya, bawel, tukang protes, atau tidak percaya banyak hal. Oleh karena itu, seorang skeptik disebut sebagai orang yang bersikap negatif terhadap banyak hal karena tidak mempercayai banyak hal atau meragukan setiap hal. Dengan demikian, masyarakat menganggap “skeptisisme” dianggap suatu hal yang negatif karena sifatnya yang selalu menegasi banyak hal. Apakah benar demikian?
Kata “skeptik” sendiri berasal dari kata Yunani skeptoi yang artinya: orang-orang yang mencari atau orang-orang yang mencari informasi. Apa yang dicari oleh para skeptik? Mereka mencari berbagai keterangan mengenai hal-hal yang terjadi di sekitarnya. Para skeptik adalah orang-orang yang tiada henti mencari tahu dan bertanya mengenai berbagai hal-hal di sekitarnya; apa yang sesungguhnya (telah) terjadi? mengapa hal itu bisa terjadi?  bagaimana hal itu bisa terjadi? bagaimana menjelaskannya? apa saja bukti-buktinya?
Dalam proses pencarian ini para skeptik melakukan berbagai penelitian, investigasi, penelusuran, pertimbangan, dan penilaian yang didasarkan pada bukti-bukti yang relevan dengan ditopang oleh daya pikir kritis dan berbagai argumentasi yang jernih serta masuk akal. Dengan demikian, skeptisisme merupakan suatu proses dalam menerapkan pikiran kritis dan akal sehat untuk memutuskan/menentukan/menetapkan kesahihan sebuah subjek atau masalah. Hal ini dinamakan dengan proses penemuan akan kesimpulan yang didukung oleh berbagai fakta, data, serta logika, dan bukannya pembenaran/penegasan terhadap kesimpulan yang sudah ada.
Sepatutnya skeptisisme memberikan pengaruh yang begitu kuat sekaligus positif bagi dunia. Skeptisisme bukanlah upaya untuk menghancurkan/meruntuhkan/menolak mentah-mentah banyak hal, seperti yang disangkakan selama ini. Skeptisisme adalah upaya untuk mengarahkan kembali perhatian manusia pada bukti-bukti relevan yang ditunjang oleh akal sehat sekaligus menyingkirkan berbagai takhyul yang ada dan berkembang dalam masyarakat. Oleh karena itu, skeptisisme berupaya mengarahkan berbagai pandangan dan ide sehat manusia demi pemikiran yang nyata dan tidak dibelenggu oleh berbagai pemikiran yang bernuansa fantasi.
Apa ukurannya? Berbagai metode saintifik adalah tolok ukur yang digunakan para skeptik untuk mempertimbangkan, mengukur, dan mempertimbangkan semua hal. Oleh karena itu, pernyataan-pernyataan yang bersifat anekdot serta berbagai pengakuan atau kesaksian orang yang umumnya tidak didukung oleh berbagai bukti relevan dan argumentasi yang masuk akal seringkali ditolak oleh para skeptik. Inilah yang membuat para skeptik seringkali dijuluki sebagai orang-orang yang memiliki sikap negatif karena tidak mempercayai orang lain. Namun sesungguhnya yang terjadi adalah bahwa para skeptik adalah orang-orang yang membutuhkan berbagai berbagai bukti relevan yang didukung oleh argumen-argumen yang masuk akal.
Yang harus ditekankan dan diingat adalah bahwa berbagai klaim “luar biasa” membutuhkan berbagai penjelasan dan bukti yang juga “luar biasa”, khususnya berbagai hal yang berkaitan dengan fenomena paranormal dan supernatural atau agama. Dengan demikian, skeptisisme adalah suatu proses yang sangat diperlukan, bermanfaat, dan positif dalam upaya menemukan “kebenaran.”

The carbon copy of lifestyle

Sejenak berfikir ketika melihat beberapa remaja yang melintas didepan mata, dengan pakaian mereka yang melambangkan modernisme dilengkapi berbagai macam aksesori seperti reklame berjalan mulai dari ujung rambut sampai turun ke ujung kaki. Mungkin otak ini sudah terlalu skeptis karena sangat bosan melihat cara berpakaian yang hanya copy-paste dari majalah busana dengan judul cover “be myself” atau dari siaran infotainment artis top di media tv sampah, komentar yang terlintas seketika adalah rasa miris melihat segerombolan korban dari modernisme yang tak jelas asal-usulnya sedang berjalan seperti patung Barbie yang dikendalikan oleh mode, lifestyle dan trend. Lebih luas lagi perhatian saya ketika melihat puluhan atau mungkin ratusan manusia seperti lahir dari produk mesin foto copy, atau seperti produk kue yang dibuat dari satu cetakan yang sama. 
it’s the real me ternyata hanya sebatas quotes semu dan representasi dari sebuah hak atas pengakuan modis ber-taste tinggi, apa yang ada dimata saya hanyalah sebuah hegemoni serentak hilangnya jati diri karena orang hanya berkemampuan sebatas meniru atribut orang lain secara massal.

Kapitalisme, Sistem Imperialis Baru Abad 21

apakah kapitalisme itu?
simpel, Kapitalisme adalah sebuah sistem yang hanya berpikir untung dan rugi, kapitalisme adalah globalisasi yang mengijinkan setiap negara adikuasa bebas tanpa adanya batas untuk menguasai pasar internasional atau lebih tepatnya untuk mengeksploitasi SDA dan memperbudak SDM negara miskin, kapitalisme adalaha sebuah sistem dimana sejumlah individu kaya raya yang memiliki dominasi pabrik atau perusahaan yang tidak “mengijinkan” sektor kecil untuk berkembang menguasai pasar dan melampaui mereka. Para kapitalis ini bersaing pada sebuah pasar bebas tanpa melalui sistem kebijakan dari birokrasi atau pemerintah suatu negara yang akhirnya berdampak pada kacaunya sistem perekonomian dan berpotensi untuk menimbulkan krisis ekonomi. Setiap kapitalis akan didorong oleh kompetisi untuk membangun usaha dengan mengorbankan orang lain. Seperti yang dikatakan Kalr Marx, “Akumulasi! Akumulasi! itu adalah nabi bagi sistem kapitalisme”. Ini berarti yang kuat memakan yang lemah, dan sistem ekonomi suatu negara akan turun secara drastis sampai mengalami krisis ekonomi.
Karl Marx sendiri dalam bukunya menganggap kepemilikan alat produksi oleh kelompok kecil merupakan musuh utama didalam sistem kapitalisme yang harus dibasmi. Menurutnya, kapitalisme harus mengahalangi kaum minoritas (sektor kecil) dalam mengontrol kepemilikan alat produksi demi melancarkan eksploitasi yang dilakukan oleh kaum mayoritas (sektor besar) untuk menyerap  manusia sebagai buruh pekerja didalam pabriknya. Eksploitasi semacam ini berlaku kepada para pekerja yang tidak memiliki perangkat produksi dan keterbatasan modal usaha dengan terpaksa akan menjual tenaganya kepada kaum kapitalis demi selembar uang (wage labour system). Ini berarti mereka tidak memiliki kontrol dari hasil kerjanya dan dalam sebuah sistem ekonomi seperti ini sama sekali tidak ada kemungkinan untuk merencanakan perekonomian demi kepentingan masyarakat luas karena yang ada hanyalah kepentingan individu dan kelompok tertentu diatas segalanya.
Semisal.. Pernahkah kalian bertanya atau setidaknya memperhatikan para buruh yang bekerja di pabrik garmen atau sepatu di tempat tinggal kalian. Setiap hari dari mulai pagi hingga menjelang malam mereka bekerja dengan gaji yang minim, seandainya kalian pernah menengok kedalam pabrik tersebut seperti apa pekerjaan mereka sebenarnya, mereka seperti mesin berjalan tanpa henti yang hanya dikendalikan oleh sebuah tombol jam makan siang, tangan mereka begitu cepat, mata mereka tertuju hanya pada satu titik dan semua itu dilakukan setiap hari dengan upah perjam yang minim tanpa disertai insentif yang layak.
Sekarang samakan dengan pekerja berdasi di perusahaan gedung bertingkat, datang setiap pagi, memasuki ruangan kantor yang hanya dibatasi bilik tanpa atap dan terkotak-kotak seperti hewan peliharaan yang siap untuk dijual, duduk diruangan yang sama dan memandangi komputer hingga dua belas jam penuh tanpa henti, bekerja dengan bayang-bayang target perusahaan yang begitu menekan mental dan tenaga. Dan bayangkan apabila hal tersebut juga terjadi setiap hari secara monoton tanpa diimbangi dengan insentif yang layak.
Apa yang terjadi? Yang terjadi adalah kondisi dimana manusia berevolusi menjadi sebuah baterai.
Ketika kalian membeli sebuah produk pakaian, sepatu atau produk branded lainnya disebuah pusat perbelanjaan, pernahkah terlintas sedikit saja dibenak kalian bahwa barang yang sedang kalian pegang atau kalian pakai berasal dari tangan pribumi negeri kalian sendiri, kaum pribumi yang bekerja dan dibayar dengan harga rendah, kaum pribumi yang bekerja dibawah sebuah sistem setan, kaum pribumi yang tidak akan pernah bisa meningkatkan level taraf hidup mereka ketingkat yang bisa dikatakan layak dan jauh dari angka kemiskinan. Seandainya mereka tahu bahwa upah yang mereka dapatkan tidak sebanding dengan harga jual dari produk yang kalian beli, dan seandainya sifat konsumtif dan ego manusia yang cenderung hedonis bisa lebih ditekan demi mensejahterakan mereka, maka disitulah letak kemerdekaan suatu bangsa yang sesungguhnya, kemerdekan yang lepas dari tangan imperialisme barat, lepas dari sistem perbudakan demi memenuhi hegemoni budaya hidup western yang berakar kuat di negeri ini.
Sudah terlambat. Tapi satu-satunya jawaban untuk menghindari keadaan seperti itu ialah menyita industri dari para individu kapitalis atau yang biasa disebut dengan nasionalisasi, dan membiarkan negara untuk merencanakan ekonominya sendiri. Atau dengan cara meng-embargo ekonomi negara sendiri agar ekonomi berbasis sektor kecil bisa berkembang dan menguasai pasar. “dari kita->oleh kita->untuk kita”, bukan “dari mereka->oleh kita->untuk mereka”.

Pembodohan Massal

Kita berpakaian seperti televisi, merias diri seperti televisi, makan minum dengan cara televisi, mendidik anak dengan televisi. sadarkah kita selama ini cukup tertidur nyeyak karena televisi, dunia kita lebih besar dari benda kotak disudut ruanganmu, pikiranmu dihibur dengan benda sampah di tengah keluarga kita, benda tersebut hanya ingin kita terus tertidur, membuat kita untuk percaya apa yang dikatakannya dengan mengulang-ulang perkataannya setiap hari, membuat diri kita adalah mahluk "copy-paste" budaya, lifestyle dan pola pikir yang MURNI SEMUA DIPAKSAKAN. apakah semua itu menjadi masalah bagi kita???
pastinya kalian menjawab "tentu tidak, emang ada hubungannya?"
Ok, mari kita berpikir sejenak, logikanya cukup sederhana...
gampangnya begini... angggap saya adalah salah satu pemilik perusahaan minyak asing terbesar dengan akses eksplorasi yang masih terbatas dinegara kalian yang sudah berdiri setengah abad lamanya. ternyata setelah melalui tahap riset tertentu, saya mengetahui bahwa cadangan minyak yang masih ada didalam perut bumi negaramu bisa mencukupi hidup seluruh rakyat tanah air selama 10 dekade kedepan misalnya. dan apa yang saya lakukan berikutnya adalah bagaimana caranya agar semua cadangan minyak tersebut seluruhnya ada ditangan korporasi saya dan hanya saya sisakan sedikit untuk negaramu. karena kelengkapan teknologi peratan pengolah minyak yang saya miliki, maka mau tidak mau pemerintah kalian akan bekerjasama dengan perusahaan saya dengan pertimbangan menghemat biaya operasional. tahap selanjutnya sudah tentu jelas, saya akan memanipulasi jumlah cadangan minyak sebenarnya dari 100% menjadi 10% misalnya, dengan cara menyodorkan angka palsu kepada pemerintah kalian.

pemerintah kalian tidak akan tahu dan tidak akan mau tahu bagaimana cara kerja teknologi yang saya miliki karena mereka pada dasarnya adalah penganut sistem korup yang hanya menguntungkan profit, dan itu adalah keuntungan besar bagi saya karena saya akan dengan mudah untuk menyuap mereka dan sedikit ikut bermain di arena politik di negera kalian, bagaimana caranya? gampang! saya akan menjadi penyokong dana terbesar untuk kampanye mereka ditahun pemilihan suara berikutnya untuk menjadi wakil kalian baik itu skala nasional-regional, karena hanya dengan itu mereka akan diam dan menurut. tentunya para calon yang akan saya beri bantuan dana harus sepaham dengan sistem saya yang juga sama-sama korup dan pemilik perusahan energi atau media telekomunikasi. mereka tidak akan mau menghabiskan biaya mahal mengirim SDM lokal yang cerdas untuk meneliti sendiri apa yang sebenarnya terjadi. (itulah kenapa sebabnya orang2 cerdas dinegara kalian lebih memilih menerapkan ilmunya di negara asing,karena mereka lebih jauh dihargai tenaganya disana).

so? apa hubungannya dengan televisi???

tentu ada! sekali lagi saya adalah pemilik perusahan asing yang bercokol dinegara kalian, maka pasti saya ikut bermain dalam sistem politik negara kalian demi kepentingan pribadi dan segelintir penguasa lokal yang sepaham dengan saya... maka saya akan lebih banyak menjejali privatisasi iklan dengan brand produk2 olahan minyak milik saya melalui tangan pemerintah dan menjadi sponsor utama media lokal secara beruntun, menentukan penayangan media demi kepentingan eksploitasi yang saya lakukan, menghalang-halangi pendemo melalui aparat kalian dan menyeleksi berita mana yang akan ditayangkan agar tidak menimbulkan reaksi publik yang berlebihan, melakukan pembunuhan karakter tokoh LSM atau tokoh kritis yang berusaha membuka kedok korperasi saya melalui berita, acara debat dan diskusi yang ada di media, dan masih banyak lagi! dan itu semua tidak akan berhasil tanpa bantuan dari para elite politik sekaligus pemilik perusahaan kapitalis terbesar dinegara kalian yang korup!

dan untuk kalian, film holywood, infotainment, reality show, idol event, comedy,  live music dan acara sampah lainnya sudah cukup untuk membuat otak kritis kalian MATI! sehingga ketika kalian melihat, membaca, mendengar atau merasakan hal yang semestinya memang layak untuk lebih dipikirkan, kalian akan lebih memilih untuk sibuk dengan lifestyle, mode, kuliner, hiburan dan hal konsumtif lainnya dari media karena dari awal mereka sudah melekatkan doktrinnya tersebut secara kuat di bagian otak kalian yang paling dalam dan paling penting.
sekali lagi... UNTUK MEMBUAT OTAK KRITIS KALIAN MATI.

separah itukah???

ya! contoh diatas hanya gambaran dari segelintir kelicikan para elite yang memang sengaja memanfaatkan sistem negara kita yang pada dasarnya memang korup ditambah peran media khususnya televisi untuk menidurkan kita agar mereka dapat menguasai SEMUA SDA milik negara, yang pada akhirnya secara tak sadar mau tidak mau kita akan mengikuti arus dan menjadi budak dari sistem kapitalis setan yang lebih mengutamakan profit/riba tanpa memandang nasib negara kita sendiri. semakin banyak orang mengikuti arus tersebut maka akan semakin banyak pula KORUPTOR karena takut hidup miskin! dan sistem tersebut juga berlaku di sitiap negara yang ada di seluruh dunia melalui cengkraman kekuatan globalisasi.
anggap saya orang gila yang terlalu skeptis dengan media, pada saatnya kalian juga akan merasakannya sendiri. itupun jika kalian sudah bangun dri tidur kalian.

dan jika diantara dari kalian yang sudah memiliki kepekaan sebelumnya, maka kalian tentunya sudah tahu untuk tujuan apa semua ini dibuat...

Nickelback-when we stand togheter

Produk Dari Sebuah Bangku

Kuliah.. Bangun setiap pagi dengan nafas malas, duduk didalam ruangan dan memaksa diri untuk memahami materi yang monoton alakadarnya, berdiskusi dengan berbagai macam jenis tipikal manusia, dan lain sebagainya…
Dan sekarang, entah karena jenuh atau mungkin karena muak akhirnya saya tahu mengapa harus duduk dibangku kecil ini, saya menyadari bahwa tujuan sebenarnya dari bangku tersebut tidaklah tersaji didalam satu paket kredit semester yang diisi dengan berbagai macam menunya yang berwarna-warni, tidaklah tersaji didalam setiap diskusi semu dan tidak juga tersaji didalam ruangan dengan proyeksi gambar ditemboknya.. Lalu untuk tujuan apa bangku itu ada?
Bangku itu hanyalah sebuah kunci untuk melihat “kenyataan” yang disajikan didalamnya.
“Kenyataan itu tersaji ketika saya menemukan sebuah keadaan miris bahwa saya sendiri adalah bahan baku dari “mesin uang” untuk sebuah sistem yang pada dasarnya korup.”
“Kenyataan itu tersaji ketika saya menyadari bahwa saya akan dikondisikan untuk berfikir hidup ini adalah uang dan uang adalah hidup, semakin banyak uang semakin banyak pujian.”
Idealisme beragama, Idealisme anti korupsi, idealisme bela negara dan idealisme pro-rakyat merupakan suguhan ilmu ekstra yang ditawarkan kedalam otak saya ketika duduk di bangku ini. Antusiasme untuk membangun negeri dan cita-cita untuk merubah ahklak penghuninya terasa ingin segera saya luapkan jika nanti berhadapan dengan dunia kerja.
Tapi… betapa bodohnya jika semua itu termasuk kedalam agenda sistem kerja saya nanti karena sudah tentu tidak ada satu-pun perusahaan yang menargetkan agar seluruh pasar terjejali oleh produknya dengan konsep pemasaran menggunakan salah satu isme tersebut.
Dan disuatu pagi ketika saya kembali duduk dibangku tersebut, timbul sebuah pertanyaan…
Apa yang manusia kejar didunia ini?
Apa yang mereka kejar hingga mereka rela mengerahkan segala macam potensi diri yang mereka miliki?
Apa yang mereka kejar sampai melupakan asal-usul darimana mereka berasal?
Apa yang mereka kejar hingga rela diperbudak oleh sebuah sistem yang hanya berisikan prosedur, kertas dan tinta, sebuah sistem yang hanya legal diatas kertas kemudian menjadi sistem sampah setelahnya.
Jawabannya adalah “tidak ada”…
Dan apa yang mereka kejar akan menjadi lebih fana ketika mereka merasa yakin bahwa dirinya akan tetap hidup sepuluh tahun lagi.
Apa yang saya tahu adalah uang dan standar hidup tinggi menjadi satu-satunya tujuan dari eksistensi bangku tersebut di jaman ini. Anggapan bahwa status pekerjaan dan gelar lebih menentukan strata sosial didalam masyarakat membentuk manusia lebih cenderung bersifat anti-sosial dan apatis. Anggapan bahwa totalitas pengabdian kepada alam dan kelompok kecil adalah sesuatu yang patut dipermalukan karena tidak sesuai dengan standar gelar lebih mengukuhkan sifat sombong dan tamak yang menggerogoti fitrah manusia.
Mungkin pikiran ini terlalu sempit dan naif namun disisi lain “sebuah bangku” tidak seharusnya merubah produk yang akan dikeluarkannya untuk menjadi sebuah baterai..

“Tuhan hanya memberikan apa yang kita butuhkan..
Dan memberikan kelebihan sebagai sentilan untuk penguji iman.. “

Efek Samping Dari Sebuah Sistem Pendidikan

Seorang teman seperjuangan satu kampus mendatangiku dengan muka penuh beban dan terlihat sedang berusaha mencari tempat untuk berbagi masalah bersama.. sebut saja dia Awan, orang dengan badan segede kasur yang memiliki suara keras seperti sound system acara kawinan..
Awan : *duduk dengan kaki diatas dengkul
Saya : *pura2 liet inbox hape
Awan : *colek pundak sebelah kanan dan berkata.. “pren.. tadi ane baru anterin temen tes kerja, jadi sedih ngliatnya”
Saya : “kenapa sob? Dia gak lolos yah?, emang temenmu lulusan apa?”
Awan : “iya dia gak lolos, dari sembilan aplikasi yang dia masukin satupun gak ada yang jebol men..  jurusannya sama kaya kita, satu angkatan tapi dia baru wisuda bulan kemarin diuniversitasnya”
Saya : “emang tuh dia selama ini nyoba tes kerja dimana aja? Aneh bener gak ada yang lolos, idiot kali temenmu wawancara kerja sambil ngisep ganja.. hahaha”
Awan : *gebrak meja… “bukan lolos gaknya yang jadi masalah, tapi jurusannya itu yang bikin dia selalu ditolak…”
Saya : *wah tumben ni badak serius.. “lah kok bisa? Bukannya jurusan kita ntar kalo kerja bisa ditaroh dimanapun yah, apalagi kerja di perusahaan model begituan seharusnya bisa masuk.. emang temenmu tes kerja dimana aja sih???”
Awan : *satu persatu nyebutin tempat dan jenis kerjaannya sambil cerita panjang lebar… (setengah jam kemudian)… “jadi gt ceritanya boy, sewaktu tes wawancara terakhir dia gagal soalnya jurusan yang diambil sewaktu kuliah gak sesuai dibidang kerja perusahaannya itu. Kalo kek begini jadi ikut kuatir.. jangan2 besok nasib ane sama padahal pingin banget nyari kerja gaji 5 juta keatas… dimana lagi kalo gak di perusahaan model begituan…”
Saya : “wew… tapi emang gak ada alternatif lain selain target kerja disitu?, toh kamu juga bisa nyari kerja yang sesuai sama gelarmu ntar..”
Awan : “lha sekarang apa bedanya jurusan kita sama jurusan lain? Jurusan kita juga mampu kok pake aplikasi ilmu dari jurusan lain yang masih satu fakultas.. “
Saya : “ya berarti tes masuknya pake jalur lain dong.. kan banyak tuh jalurnya. Ato kerja di perusahaan BUMN kek, kaya gak ada kerjaan lain aja… di bank juga lumayan prospeknya.. gengsi amat”
Awan : “bukan begitu, ni masalahnya buat biaya idup besok boy, emang ente bisa idup dikota besar Cuma pake duit gaji 2-3 jutaan?? Ente juga gak muna’ tho kalo pingin istri sama anak ente bisa idup adem ayem… jaman sekarang duit yang ngomong mameeeeen..”
Saya : *agak bosen “omonganmu udah kaya calon koruptor aja.. ”
Awan : “hah!... omongan yang mana? Sekarang jadi orang yang realis aja lah, gak usah sok idealis, emang besok ente bisa makan pake idealis, boro2 makan… kerja aja paling gak ada yang mau nrima..
Saya : *angkat dada “mapan itu gak harus punya gaji segede yang kamu pingini sob, tapi segede apa kemampuanmu manfaatin gaji yang ada buat ngangkat orang-orang pribumi biar gak jadi budak di tanahnya sendiri lewat ilmu dari bangku yang sekarang kamu duduki (maksudku jadi enterpreneur berbasis SDM lokal tapi dia kayanya gak nyambung, yang dipikir materi mulu). kalo semisal niatmu kerja cuma buat idup gengsi yaaa rasain sendiri ntar, kamu bakal stress kaya orang dikejar-kejar sesuatu, gak pernah puas, gak pernah bersukur, maunya instan terus… akhirnya yaaa korupsi soalnya takut miskin gak kebagian. Belum lagi faktor nyenengin istri yang kalo gak diturutin bibirnya manyun tujuh meter.”
Awan : *ngotot gak mau kalah “bah! Kedengaran muna’ sekali dikupingku.. Terlalu tinggi bahasamu, mikir yang begituan ntar aja, muluk-muluk amat jadi orang.. yang penting ada duit dulu, punya rumah dulu, anak istri bisa idup lebih terjamin baru deh tu bisa nolongin orang lain”
Saya : “gimana bisa sempet nolongin orang kalo ntar kerja berangkatnya sebelum anakmu bangun, pulangnyanya anakmu udah tidur.. kalo mau nih ada tawaran.. ikut jadi relawan LPM buat anak-anak pelosok yang pendidikannya gak ada yang ngurus.. gmn? Syaratnya cuma dua. Fresh graduated from all department sama iklas!. Gaji seadanya, rumah ngikut penduduk disana, kalo mau ntar call me aja.”
Awan : “yah.. kita liet saja besok setelah lulus siapa yang bakal sukses duluan” *angkat kaki pindah kursi
Dan sejak hari itu pula saya berusaha memantapkan hati untuk menekan pola pikir hedonis yang cenderung korup melalui anak didik saya nanti, entah bagaimana caranya. semua mulai dari diri saya sendiri.. sedikit demi sedikit mulai dari diri sendiri untuk menjadi lebih baik dan lebih bermanfaat. Semoga Allah memberkati.. Amin.
Dan terima kasihku yang sebesar-besarnya untuk Awan..


Risih dengan keluhan

Awalnya saya heran mengapa banyak orang dengan gampangnya meluapkan perasaannya, baik itu perasaan senang maupun sedih terutama apabila mereka sedang berhadapan dengan suatu problema yang konotasinya sangatlah sepele dan simple. Ketika kita sedang berhadapan dengan perihal yang tidak sesuai dengan keinginan kita, seketika itu juga kita selalu mengatakan kata-kata yang bersifat negatif alias mengeluh tanpa adanya kontrol diri, padahal dengan kita mengeluarkan satu keluhan saja hal itu sudah mampu mempengaruhi kondisi psikologis dan kejiwaan kita, mengapa demikian? Karena apabila kita mengeluh dan memiliki pikiran negatif tersebut maka pikiran didalam otak kita secara langsung akan bereaksi dengan menciptakan suatu kondisi dimana pikiran negatif tersebut akan menjadi kenyataan, pikiran adalah immaterial yang mampu mengendalikan lingkungan sekitar, apabila kita berpikir sesuatu hal yang buruk akan segera terjadi, maka lingkungan sekitar juga akan mendukung hal tersebut menjadi kenyataan.


Banyak faktor penyebab mengapa kita mengeluh bahkan hampir setiap hal yang kita hadapi meskipun itu bukan karena suatu masalah, kita tetap masih mengeluh dan pada akhirnya masalah baru akan timbul justru ketika kita sudah mengeluh. Sebagai contoh apabila kita sedang bermain game sejenis strategi atau single person game misalnya, apabila kita mati tertembak maka pikiran bawah sadar akan merangsang otak untuk bereaksi dengan mengeluarkan keluhan, seperti mengeluarkan kata-kata kotor atau membanting mouse komputer dengan nada marah. Hal tersebut dapat terjadi karena reaksi otak yang mendorong pikiran kita untuk bersaing secara brutal karena adanya suatu unsur kompetitif didalam permainan tersebut, permainan itu hanya menuntut adanya pemenang dan pecundang.

Coba perhatikan, awalnya kita hanya mengeluh didalam permainan tersebut karena kita mati tertembak misalnya, maka secara otomatis kita menjadi pecundang, semakin kita banyak mati didalam permainan tersebut semakin kita banyak mengeluh dan pastinya kita akan merasa lebih dari pecundang, lama-kelamaan kita kesal bermain karena selalu kalah dan akhirnya keluh kesah yang sudah kita ciptakan secara berangsur mempengaruhi jalan pikiran yang ada dibenak kita dan secara perlahan berdampak pada kondisi fisik saat itu, perasaan marah, malas dan tidak puas menjadi dominan ketika kita menyikapi reaksi yang diberikan lingkungan seperti apabila terjadi hujan, kita akan gampang mengeluh kembali, permintaan kita ditolak oleh teman, kita akan gampang marah, banyak pekerjaan yang seharusnya segera kita kerjakan, kita malah malas mengerjakannya.

Pada diri manusia, tubuh adalah yang paling lambat getaran reaksinya, sementara pikiran dan perasaan atau kesadaran manusia memiliki vibrasi yang paling tinggi di alam semesta. Secara objektif pula, manusia pada dasarnya mampu mengubah realitas dan mampu menciptakan keadaan yang mereka inginkan dengan cara mengubah reaksi pikiran dan prasangkanya yang negatif menuju kedalam level positif, apapun itu. Apabila kita memiliki pikiran negatif, maka lingkungan akan mendukung untuk merealisasikan perihal negatif yang telah kita pikirkan, begitupun juga sebaliknya apabila kita berpikir positif, maka perasaan yang akan timbul adalah perasaan tenang dan ikhlas meskipun kita sedang mengahadapi suatu masalah, karena kita sudah tahu bahwa tidak ada masalah yang tidak bisa dipecahkan, maka otomatis kondisi fisik kita akan terangsang untuk selalu berusaha dan mencari alternatif solusi yang tepat dan secara otomatis pula lingkungan akan memberikan dukungan yang positif kepada kita, ibarat hubungan timbal balik.


Nah, mengapa kita harus mengeluh padahal kita sudah tahu dengan keluhan tersebut segala urusan kita akan menjadi berantakan, kenapa kita tidak menciptakan suatu pikiran yang positif sebagai senjata untuk menyikapi segala permasalahan yang sedang kita hadapi, sekecil apapun masalah itu, sehingga akan tercipta hubungan harmonis antara kita dan lingkungan karena adanya suatu energi positif yang telah kita ciptakan. Ketakutan, rasa cemas, serakah, keduniaan, merasa tidak puas dan tentunya hawa nafsu merupakan penghambat kita untuk meraih kesuksesan. Kunci utama untuk mengontrol perasaan tersebut adalah dengan berpikir positif, berpikir dengan pikiran jernih sebelum menyikapi suatu efek yang ditimbulkan langsung dari perihal yang sedang kita kerjakan, berpikir bahwa setiap hal yang sedang kita jalani tidaklah sia-sia dan pasti akan membuahkan hasil yang memuaskan.

Semoga bermanfaat.

Dewasa

Apalah arti kedewasaan tanpa adanya pola pikir untuk menunjang kedewasaan itu sendiri?, sebuah metamorfosis pengembangan diri dari suatu siklus kehidupan semua mahluk hidup di bumi. Kedewasaan secara subjektif dapat diartikan sebagai suatu perilaku dimana seseorang mampu hidup mandiri tanpa bantuan dari orang lain atau dengan sedikit bantuan dari orang lain. Secara umum ketika seorang remaja mulai menuju kedalam tahap kedewasaanya, mereka mulai mampu memikirkan hal-hal yang lebih kompleks dari suatu persoalan menurut pengamatan mereka secara pribadi, mampu melihat suatu masalah tertentu dengan mata hati dan logika yang praktis dengan bercermin dari pengalaman hidup yang sudah pernah mereka dapatkan.
Dalam proses pengembangan diri menuju ketahapan dewasa tersebut, setiap individu akan mulai menjadi sesosok yang lebih perasa terhadap setiap hal yang akan dilaluinya dan tidak lagi memiliki sifat egoisme yang berlebihan sehingga secara tidak langsung akan mempengaruhi dan merubah pola pikir didalam memecahkan sebuah persoalan yang sedang digenggamnya. Pengalaman dianggap sebagai guru yang paling berharga pada proses ini, pengalaman menunjukkan bahwa dunia adalah tempat untuk berkompetisi dimana setiap individu memang layak diperhitungkan, pengalaman menunjukkan bahwa kawan bisa berubah menjadi lawan atau sebaliknya, sebuah pengalaman akan memaksa untuk berpikir bahwa “jika aku lunak terhadap dunia maka dunia akan melumatkanku, tetapi jika aku keras terhadap dunia maka dunia akan lunak terhadapku”.
Banyak orang dewasa yang seharusnya sudah tidak pantas lagi menyandang predikat “anak muda” jika dilihat dari segi usia dan penampilan fisik yang sepenuhnya seperti orang dewasa, tetapi mereka masih terjebak didalam dunia yang mereka ciptakan sendiri tanpa melihat reaksi sosial disekelilingnya. Orang yang mempunyai karakteristik seperti inilah yang tidak memiliki kualitas bersaing yang sehat dilingkungan tempat tinggalnya, saling serang dan saling menuduh adalah cara untuk mengatasi berbagai persoalan yang mereka hadapi. Ketidakmauan mereka didalam menciptakan pribadi yang lebih baik membuat mereka seperti benalu bagi orang lain, bahkan sifat yang mereka miliki sangatlah kekanak-kanakan dan membuat orang merasa risih bila berada dekat dengan mereka, sebagai contoh, selalu menggantungkan suatu urusan yang sepele kepada orang lain, tidak menghargai hak-hak dan privasi, sama sekali tidak memiliki etika dalam bergaul, memperlakukan orang lain tidak berdasarkan usianya tetapi berdasarkan dengan predikat yang melekat kepadanya, seperti pembantu tetaplah pembantu meskipun umurnya lebih tua dari dirinya.

Sifat mereka yang destruktif menjadi dominan ketika mereka mulai berpikir untuk memecahkan sebuah masalah yang dihadapi, mereka belum mampu menciptakan alternatif-alternatif pemecahan masalah yang baik dan aman untuk digunakan sehingga secara tidak langsung mereka akan lebih memilih suatu solusi final yang dianggap praktis tetapi malah menimbulkan masalah baru.
Berpikirlah secara mendalam untuk membentuk pola pikir yang positif, bersikaplah keras terhadap dunia dan gunakan pengalaman sebagai tiket untuk meraih kesuksesan karena pola pikir dan sebuah pengalaman adalah maha guru di dunia yang memang berfungsi untuk mengoreksi dan sebagai media evaluasi dari suatu perbuatan.

“Ibarat berperang, kita adalah tentara, lingkungan setiap saat adalah musuh, harga diri adalah tanah air, pola pikir adalah pimpinan, etika adalah senjata, introspeksi adalah obat dan kedewasaan adalah tujuan utama kemenangan.”

Page view

free counters

Followers

Facebook Twitter RSS